DKBM 2012 "Lulus 4 tahun? Sanggupkah Kita?"
DKBM (Dialog Keluarga Besar Matematika) adalah salah satu event besar BEMJ Matematika. DKBM tahun ini mengangkat tema "Lulus 4 tahun? Sanggupkah Kita?" dan hadir dengan tampilan acara baru. Penasaran? Hadiri acaranya pada tanggal 1 Mei 2012 di ruang 3.6 & 3.7 Gedung FMIPA UNJ. Turut mengundang dosen-dosen Jurusan Matematika di mana nantinya mahasiswa dan dosen bisa saling sharing tentang permasalahan yang ada. Ayo gunakan kesempatan ini untuk menyalurkan aspirasimu...
Read more >>
BEM MATEMATIKA UNJ 2016-2017
Inilah kami, Pejuang-Pejuang BEM MATEMATIKA UNJ 2016-2017....
PROFIL BEM MATEMATIKA 2016-2017
BEM Matematika adalah organsasi mahasiswa di....
[HOT] Anjangsana 2016
Mau tau keseruan Matematika UNJ Goes to Semarang? Tengok yuk....
[HOT] Ketua BEM Matematika FMIPA UNJ Terbaru!
Mau tau? Yuk mampir ke sini....
Minggu, 29 April 2012
Jumat, 30 Maret 2012
Olimpiade : 7 Orang Peserta Terpilih Untuk Mengikuti ON MIPA
Hot News | 7 Orang peserta telah terpilih untuk mengikuti ON MIPA (Olimpiade Nasional MIPA) Dikti mewakili Jurusan Matematika:
Yuk Kawan... Doakan perwakilan Jurusan Matematika FMIPA UNJ agar meraih sukses di ON MIPA.
Read more >>
- Wisnu Aribowo (PMB'09)
- Rahmat Satria B. (PMA'09)
- Pratiwi (PMA'09)
- Novta Chaerli (PMR'08)
- Zaki Hidayat (SBI'10)
- Mega Novianti (M'10)
- Ayu Dina A (PMR'10)
Yuk Kawan... Doakan perwakilan Jurusan Matematika FMIPA UNJ agar meraih sukses di ON MIPA.
Kamis, 15 Maret 2012
CARI DUIT BAYARAN 5,9 JUTA DALAM SATU HARI (HARI TERAKHIR BAYARAN)
*keajaiban Allah
By Advokasi Kampus Unj
Jumat, 3 Februari 2012
adalah hari ketika saya merasakan ketenangan setelah ketegangan dan kepanikan yang hampir membuat pecah kepala. Bagaimana tidak, hari itu adalah hari terakhir membayar semesteran dan hari itu juga saya belum memegang uang sepeser pun.
Saya adalah mahasiswa FTangkatan 2011 dan sialnya, saya masuk program nonreguler. Percayalah ini adalah sebuah kecelakaan, sampai-sampai kakak saya memaki-maki sistemjalur masuk di kampus ini karena tidak informatif. Saya masuk lewat jalur UMB dan ketika mendaftar tidak ada keterangan atau pilihan program regular atau nonreguler. Tiba-tiba saat mendaftar ulang, tertulis bahwa saya masuk program nonreguler yang bayarannya tiga setengah kali dari biaya kuliah kakak saya, padahal dia kuliah di kampus nomor satu di Indonesia.
Dengan latar belakang ekonomi keluarga yang pas-pasan (bahkan setahun belakangan sedang sangat kacau), tidak terbayang bagaimana caranya saya harus membayar biaya kuliah sebesar Rp5.9 Juta untuk semester dua ini. Ayah saya menganggur sejak akhir tahun 2009 setelah kantor tempatnya bekerja bangkrut. Ibu saya berjualan makanan, tapi enam bulan belakangan sudah tidak lagi. Jadilah mereka berkerja serabutan. Keluarga kami tidak memiliki tabungan, investasi atau hal lainnya sebagai prevensi untuk biaya hidup. Namun, saya harus yakin saya bisa melewati hari-hari penuh rintangan ke depan, delapan semester yang harus diperjuangkan demi lebih baiknya kehidupan, begitulah kira-kira yang selalu kakak saya tanamkan.
Sedikit mengilas balik ketika akan membayar uang pangkal. Semalam sebelum deadline, orangtua saya sama sekali tidak memegang uang. Rencananya kami akan menggunakan uang beasiswa kakak saya tahun ini untuk menutupinya, tapi ternyata uang beasiswa itu telat cair sampai waktu yang tidak bisa ditentukan (kakak saya bilang, “Biasalah birokrasi pemerintah, nggak banyak ngarep”). Akhirnya, Ibu saya berkeliling-keliling ke rumah tetangga malam-malam untuk meminjam uang. Alhamdulillah, ada tetangga yang bersedia meminjamkan sampai uang beasiswa kakak saya cair.
Masa-masa itu pelik itu pun berhasil dilalui. Setelah dibayarkan utang, uang beasiswa itu sisanya hanya cukup untuk biaya kuliahnya saja, maka kakak saya pun mulai mengajar privat untuk mencari biaya hidup selama satu tahun ke depan. Karena saya tahu betul kondisi ekonomi keluarga saya yang seperti itu, sejak awal semester pertama, Rp5.9 Juta sudah terbayang-bayang dalam pikiran: “Kalau mau tetap kuliah di semester dua, harus ada Rp5.9 Juta.” Gila duit dari mana! Nah, dari awal, saya sudah mengencangkan ikat pinggang untuk mencari uang, dari mulai mencari informasi beasiswa sampai kerja part time saya lakukan.
Yang namanya usaha, tidak ada yang langsung jadi. Oleh karena itu, saya tidak pernah bosan untuk menanyakan beasiswa atau lowongan kerja kepada senior-senior yang lebih berpengalaman. Saya pikir, saya sudah cukup besar untuk menyelesaikan masalah yang satu ini. Tidak tega kalau masih harus mengandalkan orangtua juga. Jadi, saya dan kakak saya akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak membebani orangtua kami. Salah satu informasi yang saya dapatkan adalah bantuan pinjaman dari POM sebesar Rp600.000,00 dengan ijazah sebagai jaminannya. Dan kemudahan pun mulai dirasakan, ada tiga orang yang meminjamkan ijazahnya kepada saya dengan cuma-cuma tanpa meminta jaminan apa pun, dua orang di antaranya adalah teman kakak saya yang tidak terlalu mengenal saya dan satunya lagi adalah teman satu jurusan. jadi, ada empat ijazah yang bisa menjadi jaminan. Alhamdulillah, sudah ada Rp2.400.000,00 untuk bayaran semester dua. Setelah itu, saya juga diberitahukan untuk mengajukan permintaan bantuan keBasnaz.Semua proses dan persyaratan telah saya penuhi, tetapi— rupanya Tuhan ingin memberipelajaran—bantuan tersebut belum cair sampai hari-H. Dan pelajarannya adalah kita tidak boleh menggantungkan diri pada manusia di dunia ini,siapa pun! Berharap setelah berusaha itu harus, tetapi bergantung pada satu hal hanya akan membuat putus asa, itu kakak saya yang bilang.
H-1 saya belum punya uang, Rp2.400.000,00 dari POM baru akan cair pada hari Jumat, itu pun saya agak sedikit khawatir karena belum pernah atau jarang ada mahasiswa yang meminjam dengan lebih dari satu ijazah sebagai jaminan, ditambah lagi para pemilik ijazah sedang berliburan di kampung halaman. Saya memberitahu kakak saya tentang hal ini. Dia pun langsung berangkat dari Depok menuju tempat saya di Cempaka Putih. Kami sama-sama bingung tidak tahu harus bagaimana untuk mendapatkan Rp3.500.000,00 dalam waktu semalaman. Di tengah jalan, kakak saya teringat akan teman-temannya. Dia segera menghubungi teman-temannya untuk meminjam uang.Rp3.500.000,00 itu terlalu besar untuk ukuran kantong mahasiswa, lagipula kakak saya pun malu jika harus meminjam uang sebanyak itu sekaligus. Akhirnya dia meminjam sebesar Rp500.000,00 kepada setiap temannya. Alhamdulillah, tidak sampai semalan, ada lima orang temannya yang dengan mudah memberikan pinjaman. Dia bilang, tiga orang diantaranya adalah teman SMA, satu orang adik kelasnya, dan satu orang lagi teman di kampusnya. Subhanalloh, malam itu perasaan kami campur aduk antara senang dan tegang karena masih kurangRp1.000.000,00 lagi. Saya pun mengikuti cara kakak, saya hubungi teman-teman saya untuk meminta bantuan. Alhamdulillah ada dua orang teman kampus saya yang bersedia membantu. Jadi, kurangnya tinggal Rp700.000,00. Pagi harinya, Ibu menyarankan untuk meminta bantuan kepada salah seorang saudara kami. Dia pun bersedia memberi pinjaman sebesar Rp600.000,00. Alhamdulillah…Saya dan kakak langsung berangkat kampus. Di kampus, saya dan kakak saya sudah seperti setrikaan. Bolak-balik ke sana kemari. Kami ke ruang POM untuk menukar empat ijazah dengan uang Rp2.400.000,00. Alhamdulillah bapak petugasnya ramah dan bahkan mendukung aksi meminjam ijazah ini. Lalu saya ke ruang BEM bertemu kakak-kakak advokasi. Berkali-kali kami keluar masuk ATM untuk mengambil uang yag sudah dikirim oleh teman-teman kakak saya. Lima ratus, satu juta, dua juta, tiga juta, sampai total uang (pinjaman) di tangan kami berjumlah Rp5.800.000,00. Di tengah rintik hujan yang terbawa angin, , kami duduk di atas tumpukan kayu di bawah pohon dekat Bank Bukopin. Mengingat-ingat wajah teman kami yang bisa dipinjami uang.
Ya, di detik-detik terakhir seperti itu usaha yang terlintas dalam benak hanya meminjam uang kepada teman-teman yang bisa diandalkan. Satu menit, dua menit, sampai entah berapa lama kami duduk di sana, tidak ada. Kakak saya pun sudah mulai bingung mau pinjam ke mana lagi karena banyak dari teman-temannya yang sudah dihubungi kemarin dan mereka tidak memegang uang ‘nganggur’, teman yang lainnya sudah sering ia pinjami, jadi agak segan meminjam lagi katanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Berarti setengah jam lagi bank akan tutup, tetapi uang bayaran saya masih kurang seratus ribu. Saya tidak mau panik, kakak saya bilang kami tidak boleh panik. Yakin bahwa Tuhan akan memberi jalan entah bagaimana caranya. Di tengah suasana tegang seperti itu, kakak saya masih bisa bercanda dengan mengatakan, “Cuy, liat deh anak-anak SMA itu, buat mereka, duit seratus ribu bukan masalah men! Lo minta aja sama mereka gih.!” Kami pun tertawa ironis atas ide gilanya, percayalah idenya jarang ada yang waras. Lima belas menit berlalu dengan gurauan dan tawa di mulut, tapi otak masih terus berpikir.Tiba-tiba, handphone kakak saya bergetar, ada pesan yang dari orangtua muridnya, “Mba, honor yang kemarin sudah saya kirim.Makasi ya.” AllohuAkbar! Seperti mendapat poin kemenangan, kakak saya ber-yesss sambil mengepalkan tangan ala pemain bulu tangkis.Kami langsung berlari menuju ATM tanpa memedulikan hujan yang semakin menderas.
Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Tuhan itu Maha baik dan akan selalu baik. Tugas kita tinggal meminta dan percaya, maka jalan akan terbuka, hati dan kaki kita pun akan digerakan-Nya. Rp5.9 Juta bisa terkumpul kurang dari satu hari hanya atas bantuan-Nya dengan cara yang tidak bisa dikira-kira. Setelah menyelesaikan satu pekerjaan, ada pekerjaan lain yang harus segera dilakukan. Dan sekarang adalah waktunya usaha untuk membayar utang. Memang, berutang itu tidak selalu baik dan juga tidak selalu buruk.Menjadi baik karena itu bisa untuk menutupi kebutuhan yang penting dan mendesak. Namun, akan menjadi sangat buruk akibatnya jika kita tidak tahu bagaimana cara membayarnya. Tuhan memberikan masalah satu paket dengan solusinya.Alhamdulillah, mulai bulan ini, ayah saya sudah mulai bekerja kembali dan saya pun mendapat pekerjaan part time dengan gaji yang lumayan.Bisa lah untuk membayar utang, insya Alloh.
“Tidak akan pernah merasa tersiksa bagi mereka yang mengejar impiannya.”-Sang Alkemis-
Nb:5 Februari 2011 02:45 semoga menginspirasi teman2 ^^Allah pasti kasih jalan keluar dengan Indahnya
*jika kita mau memahaminya, berusaha dan bertawakkal..
semangat2!!! setia melayani dengan hati...
Read more >>
By Advokasi Kampus Unj
Jumat, 3 Februari 2012
adalah hari ketika saya merasakan ketenangan setelah ketegangan dan kepanikan yang hampir membuat pecah kepala. Bagaimana tidak, hari itu adalah hari terakhir membayar semesteran dan hari itu juga saya belum memegang uang sepeser pun.
Saya adalah mahasiswa FTangkatan 2011 dan sialnya, saya masuk program nonreguler. Percayalah ini adalah sebuah kecelakaan, sampai-sampai kakak saya memaki-maki sistemjalur masuk di kampus ini karena tidak informatif. Saya masuk lewat jalur UMB dan ketika mendaftar tidak ada keterangan atau pilihan program regular atau nonreguler. Tiba-tiba saat mendaftar ulang, tertulis bahwa saya masuk program nonreguler yang bayarannya tiga setengah kali dari biaya kuliah kakak saya, padahal dia kuliah di kampus nomor satu di Indonesia.
Dengan latar belakang ekonomi keluarga yang pas-pasan (bahkan setahun belakangan sedang sangat kacau), tidak terbayang bagaimana caranya saya harus membayar biaya kuliah sebesar Rp5.9 Juta untuk semester dua ini. Ayah saya menganggur sejak akhir tahun 2009 setelah kantor tempatnya bekerja bangkrut. Ibu saya berjualan makanan, tapi enam bulan belakangan sudah tidak lagi. Jadilah mereka berkerja serabutan. Keluarga kami tidak memiliki tabungan, investasi atau hal lainnya sebagai prevensi untuk biaya hidup. Namun, saya harus yakin saya bisa melewati hari-hari penuh rintangan ke depan, delapan semester yang harus diperjuangkan demi lebih baiknya kehidupan, begitulah kira-kira yang selalu kakak saya tanamkan.
Sedikit mengilas balik ketika akan membayar uang pangkal. Semalam sebelum deadline, orangtua saya sama sekali tidak memegang uang. Rencananya kami akan menggunakan uang beasiswa kakak saya tahun ini untuk menutupinya, tapi ternyata uang beasiswa itu telat cair sampai waktu yang tidak bisa ditentukan (kakak saya bilang, “Biasalah birokrasi pemerintah, nggak banyak ngarep”). Akhirnya, Ibu saya berkeliling-keliling ke rumah tetangga malam-malam untuk meminjam uang. Alhamdulillah, ada tetangga yang bersedia meminjamkan sampai uang beasiswa kakak saya cair.
Masa-masa itu pelik itu pun berhasil dilalui. Setelah dibayarkan utang, uang beasiswa itu sisanya hanya cukup untuk biaya kuliahnya saja, maka kakak saya pun mulai mengajar privat untuk mencari biaya hidup selama satu tahun ke depan. Karena saya tahu betul kondisi ekonomi keluarga saya yang seperti itu, sejak awal semester pertama, Rp5.9 Juta sudah terbayang-bayang dalam pikiran: “Kalau mau tetap kuliah di semester dua, harus ada Rp5.9 Juta.” Gila duit dari mana! Nah, dari awal, saya sudah mengencangkan ikat pinggang untuk mencari uang, dari mulai mencari informasi beasiswa sampai kerja part time saya lakukan.
Yang namanya usaha, tidak ada yang langsung jadi. Oleh karena itu, saya tidak pernah bosan untuk menanyakan beasiswa atau lowongan kerja kepada senior-senior yang lebih berpengalaman. Saya pikir, saya sudah cukup besar untuk menyelesaikan masalah yang satu ini. Tidak tega kalau masih harus mengandalkan orangtua juga. Jadi, saya dan kakak saya akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak membebani orangtua kami. Salah satu informasi yang saya dapatkan adalah bantuan pinjaman dari POM sebesar Rp600.000,00 dengan ijazah sebagai jaminannya. Dan kemudahan pun mulai dirasakan, ada tiga orang yang meminjamkan ijazahnya kepada saya dengan cuma-cuma tanpa meminta jaminan apa pun, dua orang di antaranya adalah teman kakak saya yang tidak terlalu mengenal saya dan satunya lagi adalah teman satu jurusan. jadi, ada empat ijazah yang bisa menjadi jaminan. Alhamdulillah, sudah ada Rp2.400.000,00 untuk bayaran semester dua. Setelah itu, saya juga diberitahukan untuk mengajukan permintaan bantuan keBasnaz.Semua proses dan persyaratan telah saya penuhi, tetapi— rupanya Tuhan ingin memberipelajaran—bantuan tersebut belum cair sampai hari-H. Dan pelajarannya adalah kita tidak boleh menggantungkan diri pada manusia di dunia ini,siapa pun! Berharap setelah berusaha itu harus, tetapi bergantung pada satu hal hanya akan membuat putus asa, itu kakak saya yang bilang.
H-1 saya belum punya uang, Rp2.400.000,00 dari POM baru akan cair pada hari Jumat, itu pun saya agak sedikit khawatir karena belum pernah atau jarang ada mahasiswa yang meminjam dengan lebih dari satu ijazah sebagai jaminan, ditambah lagi para pemilik ijazah sedang berliburan di kampung halaman. Saya memberitahu kakak saya tentang hal ini. Dia pun langsung berangkat dari Depok menuju tempat saya di Cempaka Putih. Kami sama-sama bingung tidak tahu harus bagaimana untuk mendapatkan Rp3.500.000,00 dalam waktu semalaman. Di tengah jalan, kakak saya teringat akan teman-temannya. Dia segera menghubungi teman-temannya untuk meminjam uang.Rp3.500.000,00 itu terlalu besar untuk ukuran kantong mahasiswa, lagipula kakak saya pun malu jika harus meminjam uang sebanyak itu sekaligus. Akhirnya dia meminjam sebesar Rp500.000,00 kepada setiap temannya. Alhamdulillah, tidak sampai semalan, ada lima orang temannya yang dengan mudah memberikan pinjaman. Dia bilang, tiga orang diantaranya adalah teman SMA, satu orang adik kelasnya, dan satu orang lagi teman di kampusnya. Subhanalloh, malam itu perasaan kami campur aduk antara senang dan tegang karena masih kurangRp1.000.000,00 lagi. Saya pun mengikuti cara kakak, saya hubungi teman-teman saya untuk meminta bantuan. Alhamdulillah ada dua orang teman kampus saya yang bersedia membantu. Jadi, kurangnya tinggal Rp700.000,00. Pagi harinya, Ibu menyarankan untuk meminta bantuan kepada salah seorang saudara kami. Dia pun bersedia memberi pinjaman sebesar Rp600.000,00. Alhamdulillah…Saya dan kakak langsung berangkat kampus. Di kampus, saya dan kakak saya sudah seperti setrikaan. Bolak-balik ke sana kemari. Kami ke ruang POM untuk menukar empat ijazah dengan uang Rp2.400.000,00. Alhamdulillah bapak petugasnya ramah dan bahkan mendukung aksi meminjam ijazah ini. Lalu saya ke ruang BEM bertemu kakak-kakak advokasi. Berkali-kali kami keluar masuk ATM untuk mengambil uang yag sudah dikirim oleh teman-teman kakak saya. Lima ratus, satu juta, dua juta, tiga juta, sampai total uang (pinjaman) di tangan kami berjumlah Rp5.800.000,00. Di tengah rintik hujan yang terbawa angin, , kami duduk di atas tumpukan kayu di bawah pohon dekat Bank Bukopin. Mengingat-ingat wajah teman kami yang bisa dipinjami uang.
Ya, di detik-detik terakhir seperti itu usaha yang terlintas dalam benak hanya meminjam uang kepada teman-teman yang bisa diandalkan. Satu menit, dua menit, sampai entah berapa lama kami duduk di sana, tidak ada. Kakak saya pun sudah mulai bingung mau pinjam ke mana lagi karena banyak dari teman-temannya yang sudah dihubungi kemarin dan mereka tidak memegang uang ‘nganggur’, teman yang lainnya sudah sering ia pinjami, jadi agak segan meminjam lagi katanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Berarti setengah jam lagi bank akan tutup, tetapi uang bayaran saya masih kurang seratus ribu. Saya tidak mau panik, kakak saya bilang kami tidak boleh panik. Yakin bahwa Tuhan akan memberi jalan entah bagaimana caranya. Di tengah suasana tegang seperti itu, kakak saya masih bisa bercanda dengan mengatakan, “Cuy, liat deh anak-anak SMA itu, buat mereka, duit seratus ribu bukan masalah men! Lo minta aja sama mereka gih.!” Kami pun tertawa ironis atas ide gilanya, percayalah idenya jarang ada yang waras. Lima belas menit berlalu dengan gurauan dan tawa di mulut, tapi otak masih terus berpikir.Tiba-tiba, handphone kakak saya bergetar, ada pesan yang dari orangtua muridnya, “Mba, honor yang kemarin sudah saya kirim.Makasi ya.” AllohuAkbar! Seperti mendapat poin kemenangan, kakak saya ber-yesss sambil mengepalkan tangan ala pemain bulu tangkis.Kami langsung berlari menuju ATM tanpa memedulikan hujan yang semakin menderas.
Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Tuhan itu Maha baik dan akan selalu baik. Tugas kita tinggal meminta dan percaya, maka jalan akan terbuka, hati dan kaki kita pun akan digerakan-Nya. Rp5.9 Juta bisa terkumpul kurang dari satu hari hanya atas bantuan-Nya dengan cara yang tidak bisa dikira-kira. Setelah menyelesaikan satu pekerjaan, ada pekerjaan lain yang harus segera dilakukan. Dan sekarang adalah waktunya usaha untuk membayar utang. Memang, berutang itu tidak selalu baik dan juga tidak selalu buruk.Menjadi baik karena itu bisa untuk menutupi kebutuhan yang penting dan mendesak. Namun, akan menjadi sangat buruk akibatnya jika kita tidak tahu bagaimana cara membayarnya. Tuhan memberikan masalah satu paket dengan solusinya.Alhamdulillah, mulai bulan ini, ayah saya sudah mulai bekerja kembali dan saya pun mendapat pekerjaan part time dengan gaji yang lumayan.Bisa lah untuk membayar utang, insya Alloh.
“Tidak akan pernah merasa tersiksa bagi mereka yang mengejar impiannya.”-Sang Alkemis-
Nb:5 Februari 2011 02:45 semoga menginspirasi teman2 ^^Allah pasti kasih jalan keluar dengan Indahnya
*jika kita mau memahaminya, berusaha dan bertawakkal..
semangat2!!! setia melayani dengan hati...
Jumat, 20 Januari 2012
Study Banding BEMJ Matematika UNJ ke Himatika ITB
Sabtu, 12 November 2011
BEMJ Matematika mengadakan Anjangsana (Studi Banding) ke Himatika ITB, Bandung. Setelah melakukan persiapan beberapa minggu, akhirnya kami melaksanakan perjalanan bersama rekan-rekan BEMJ Matematika lainnya.
Perjalanan dimulai pada pukul 07.30 selama kurang lebih 2 jam. Pak Yudi dan Pak Ibnu ikut mendampingi ke ITB. Kami tiba di ITB pada pukul 10.30 dan melakukan sedikit briefing di halaman dekat masjid kampus.
Setelah melakukan persiapan, akhirnya kami bertemu dengan perwakilan Divisi Eksternal Himatika ITB, Topan dan beberapa staff divisinya. Kami pun diajak mereka berkeliling ITB sebelum kami melaksanakan acara Studi Banding
Setelah kami berkeliling ITB, kami beristirahat yang dilanjutkan dengan Sholat Zuhur dan makan siang bersama di Gedung Oktagon. Kemudian kami melanjutkan acara Studi Banding di gedung tersebut.
Anjangsana pun dimulai. Dibuka dengan sambutan dari perwakilan dosen dari Jurusan Matematika ITB dan Matematika UNJ. Setelah itu Studi Banding akademik oleh salah seorang dosen ITB dan perwakilan mahasiswa UNJ, Setyo Wicaksono dan Adhe Septian Khigansih.
Setelah Studi Banding Akademik, dilanjutkan dengan Studi Banding Organisasi yang cukup seru dan menambah ilmu tentang keorganisasian.
Tidak lupa dengan pemberian kenang-kenangan dari kedua belah pihak. Sambutan yang hangat dari Himatika ITB
==========================================================================
Read more >>
![]() |
| Anjangsana ke ITB |
Perjalanan dimulai pada pukul 07.30 selama kurang lebih 2 jam. Pak Yudi dan Pak Ibnu ikut mendampingi ke ITB. Kami tiba di ITB pada pukul 10.30 dan melakukan sedikit briefing di halaman dekat masjid kampus.
![]() |
| Briefing |
![]() |
| Pintu Gerbang ITB |
![]() |
| Penyambutan oleh Topan |
![]() |
| Keliling ITB |
![]() |
| Suasana koridor ruang kuliah Jurusan Matematika ITB |
Anjangsana pun dimulai. Dibuka dengan sambutan dari perwakilan dosen dari Jurusan Matematika ITB dan Matematika UNJ. Setelah itu Studi Banding akademik oleh salah seorang dosen ITB dan perwakilan mahasiswa UNJ, Setyo Wicaksono dan Adhe Septian Khigansih.
![]() |
| Penjelasan dari salah satu dosen Matematika ITB tentang sistem akademik |
![]() |
| Penjelasan dari Setyo Wicaksono tentang program studi Pendidikan Matematika |
![]() |
| Penjelasan dari Adhe Septian Khigansih tentang program studi Matematika |
![]() |
| Presentasi tentang Himatika ITB oleh Abu Rizal |
![]() |
| Presentasi tentang BEMJ Matematika oleh Abdul Fathir Faruqi |
![]() |
| Cinderamata dari Himatika ITB |
TERIMA KASIH ATAS SAMBUTAN HANGATNYA :)
Sabtu, 24 September 2011
COMING SOON : OR PKMJ 2011
Kadang kita melihat 1000 orang, tapi di setiap tatapan matanya, mereka
tak memiliki semangat.
Namun kadang kita melihat 1 orang, tapi dalam sorot matanya terpancar 1000 semangat.
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang memiliki 1000 semangat dalam diri kita. Semangat dalam berbuat baik&semangat dalam menempa diri.

Pastikan kamu termasuk di dalamnya.
(KD BEMJ MATH)
Read more >>
Namun kadang kita melihat 1 orang, tapi dalam sorot matanya terpancar 1000 semangat.
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang memiliki 1000 semangat dalam diri kita. Semangat dalam berbuat baik&semangat dalam menempa diri.
Pastikan kamu termasuk di dalamnya.
(KD BEMJ MATH)
Minggu, 28 Agustus 2011
MATHCUP
ADVOR BEMJ MATH PROUDLY PRESENT..
MATHCUP
Akan ada banyak perlombaan yang bisa diikuti oleh SELURUH mahasiswa FMIPA UNJ, yakni futsal, basket, voli, bola tangan, badminton, catur, tarik tambang.
Biaya pendaftaran/tim :
- Futsal : 85 ribu
- Catur : 10 ribu
- Basket : 40 ribu
- Bola tangan : 20 ribu
- Voli : 35 ribu
- Tambang : 15 ribu
- Badminton : 50 ribu
Pendaftaran dibuka tanggal 5-8 September 2011 di SAUNG BEMJ MATH.
Opening 9 September 2011
AYO PASTIKAN KALIAN MENJADI BAGIAN DARI KEMERIAHAN EVEN OLAHRAGA TAHUN INI!!
CP :
Rayvin : 085693297325
Devi : 09636100166
SALAM OLAHRAGA!!!
Minggu, 21 Agustus 2011
Lomba dan Baksos Ramadhan
Assalamualaykum. 
Di bulan Ramadhan ini, D' Rahmat mengadakan lomba-lomba dan baksos pada tanggal 22 AGUSTUS 2011 di 1.7a dan 1.6b.
Lomba-lomba yang ada yaitu :
- Tartil Qur'an : Jam 09.00 - 12.00
- Kaligrafi : Jam 12.45 - 15.15
- Penyaji iftor : Jam 17.00
Tiap kelas mengirimkan minimal 2 orang perwakilan untuk tiap lomba, 1 akhwat dan 1 ikhwan.
Biaya tiap lomba 5 ribu.
Untuk baksos, barang yang dikirimkan bisa berupa beras, minyak goreng, mie, susu, telur, atau uang.
Bagi yang ingin berpartisipasi dapat mneghubungi :
Agil (02199760924)
Fitri (085882000054)
Read more >>
Di bulan Ramadhan ini, D' Rahmat mengadakan lomba-lomba dan baksos pada tanggal 22 AGUSTUS 2011 di 1.7a dan 1.6b.
Lomba-lomba yang ada yaitu :
- Tartil Qur'an : Jam 09.00 - 12.00
- Kaligrafi : Jam 12.45 - 15.15
- Penyaji iftor : Jam 17.00
Tiap kelas mengirimkan minimal 2 orang perwakilan untuk tiap lomba, 1 akhwat dan 1 ikhwan.
Biaya tiap lomba 5 ribu.
Untuk baksos, barang yang dikirimkan bisa berupa beras, minyak goreng, mie, susu, telur, atau uang.
Bagi yang ingin berpartisipasi dapat mneghubungi :
Agil (02199760924)
Fitri (085882000054)
Senin, 15 Agustus 2011
Bakti Sosial
Assalamualaykum wr. wb..
Apa kabar kawan?
Semoga sehat dan semangat selalu.
Dalam rangka bulan suci Ramadhan 1432 H, kami dari panitia Dahsyatnya Ramadhan BEMJ Matematika memberikan kesempatan bagi teman-teman untuk mengisi dengan hal yang bermanfaat, yaitu bakti sosial untuk panti asuhan.
Bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi dapat menyumbangkan barang-barang berupa :
1. Beras
2. Minyak goreng
3. Mie instan
4. Gula
5. Susu
6. Telur
Atau dapat berupa uang yang akan dikoordinir panitia.
Teman-teman bisa menyumbangkan mulai tanggal 10 Agustus 2011 s/d 22 Agustus 2011 di Saung BEMJ Matematika.
Narahubung :
Rayvin (M'10) : 085693297325
Read more >>
Apa kabar kawan?
Semoga sehat dan semangat selalu.
Dalam rangka bulan suci Ramadhan 1432 H, kami dari panitia Dahsyatnya Ramadhan BEMJ Matematika memberikan kesempatan bagi teman-teman untuk mengisi dengan hal yang bermanfaat, yaitu bakti sosial untuk panti asuhan.
Bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi dapat menyumbangkan barang-barang berupa :
1. Beras
2. Minyak goreng
3. Mie instan
4. Gula
5. Susu
6. Telur
Atau dapat berupa uang yang akan dikoordinir panitia.
Teman-teman bisa menyumbangkan mulai tanggal 10 Agustus 2011 s/d 22 Agustus 2011 di Saung BEMJ Matematika.
Narahubung :
Rayvin (M'10) : 085693297325
Kamis, 14 Juli 2011
Pemenang Dalam Diri
Sore hari di tengah telaga, ada dua orang yang sedang memancing. Mereka adalah ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana. Dengan perahu kecil, mereka sibuk mengatur pancing dan umpan. Air telaga bergoyang perlahan dan membentuk riak-riak kecil di air. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.
“Ayah”.
“Hmm..ya..” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur. “Tadi malam, aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang sedang berkelahi. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram, saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.” ucap sang anak.
Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu mulai melanjutkan cerita, “Singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”
“Hmm..ya..” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur. “Tadi malam, aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang sedang berkelahi. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram, saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.” ucap sang anak.
Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu mulai melanjutkan cerita, “Singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”
Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan.”Tapi, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.”
“Aku bingung, maksud dari mimpi ini apa? Lalu, singa yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat?”
Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda di depannya. Sambil tersenyum, Ayah berkata, “Pemenangnya adalah, yang paling sering kamu beri makan.”
Ayah kembali tersenyum, dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat, di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.
=========
Sahabat, setiap diri kita memiliki “singa” yang saling bertolak belakang. Masing-masing ingin menjadi pemenang, dengan menjatuhkan salah satunya. Singa-singa itu adalah gambaran dari sifat yang kita miliki. Kebaikan dan keburukan. Dua sifat ini sama-sama memiliki peluang untuk menjadi pemenang dan kita pun dapat mengambil sikap untuk memenangkan salah satunya. Semua tergantung dengan singa mana yang sering kita beri makan.
Salah satu santapan dari singa yang buruk adalah sinetron. Sinetron memiliki naskah yang dangkal, emosional berlebihan, pendidik yang baik dalam hal kekerasan, kelicikan, alur cerita yang dipanjang-panjangkan, yang makin hari makin tidak berkualitas. Sinetron yang baik bisa dihitung dengan jari.
Belum lagi, kita juga disuguhkan oleh tayangan gosip, yang membuka-buka aib orang lain. Juga tayangan yang mempertontonkan keburukan dan kekerasan.
Ingat, keburukan yang dikoar-koarkan akan menghasilkan keburukan yang serupa bagi diri kita.
Sahabat,
“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Ilaah (sembahan) manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (Al Qur’an Surat An-Nas)
Setiap dari kita merindukan tayangan yang berkualitas, yang menengok pribadi-pribadi yang tangguh dalam berjuang tuk mencapai prestasi. Tayangan yang santun, tayangan yang mengajak untuk lebih dekat dengan Tuhannya.
Apa yang kita baca dan apa yang kita lihat, adalah makanan bagi pikiran kita. Apa yang terpikirkan, itulah yang akan tersikap.
Semoga kita semua dapat memenangkan singa kebaikan kita dalam hidup ini. Aamiin.
Alur MPA 2011
LAPOR DIRI (KAMPUS A) :
· SNMPTN 6 – 7 Juli 2011
· UMB 25 – 27 Juli 2011
· PENMABA 4 – 12 Agustus 2011
DAFTAR ULANG (KAMPUS A) :
· SNMPTN 8 - 15 Juli 2011
· UMB 27 Juli – 25 Agustus 2011
· PENMABA 4 – 12 Agustus 2011
PENUGASAN (KAMPUS B) :
8 Agustus 2011
INTERVIEW (KAMPUS B) :
· SNMPTN 19 – 22 Julis 2011
· UMB 9 – 10 Agustus 2011
· PENMABA 11 – 12 Agustus 2011
BRIEFING (KAMPUS B) :
11 Agustus 2011
PEMBUKAAN MPA :
13 Agustus 2011 MPA :
15 – 20 Agustus 2011
klik [disini] untuk mendowload
Langganan:
Postingan (Atom)















