Mau tahu hasil Skor Babak Penyisihan Calculus Cup IV? Download di [sini]
Read more >>
BEM MATEMATIKA UNJ 2016-2017
Inilah kami, Pejuang-Pejuang BEM MATEMATIKA UNJ 2016-2017....
PROFIL BEM MATEMATIKA 2016-2017
BEM Matematika adalah organsasi mahasiswa di....
[HOT] Anjangsana 2016
Mau tau keseruan Matematika UNJ Goes to Semarang? Tengok yuk....
[HOT] Ketua BEM Matematika FMIPA UNJ Terbaru!
Mau tau? Yuk mampir ke sini....
Minggu, 23 September 2012
Sabtu, 15 September 2012
Pemenang II Sayembara Menulis
JUARA II SAYEMBARA MENULIS
Departemen Profesi dan Keilmuan BEM Jurusan Matematika 2012
Program Perpustakaan dan Guru untuk Desa
Nanda Eka Rahayu, Pendidikan Matematika SBI 2010
Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu Negara. Negara maju memiliki pendidikan yang maju pula. Negara maju juga mementingkan pendidikan. Negara maju akan selalu memajukan pendidikan. Akankah Indonesia bisa disebut sebagai negara yang maju, jika melihat keadaan sekarang banyak masalah-masalah yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia? Salah satunya yaitu masalah pemerataan pendidikan.
Seperti yang dikatehui, Indonesia tersebar luas sebagai negara kepulauan. Ini menjadi salah satu hambatan pemerintah dalam memajukan ataupun mendistribusikan pendidikan, terutama sarana dan prasarana pendidikan. Jikamelihat sekolah-sekolah di suatu daerah terpencil, banyak yang bisa dikatakan tidak layak. Tidak seperti di kota besar, sebuah ruangan kelas sejuk menggunakan AC, lengkap dengan komputer, LCD, dan hotspot yang bisa diakses secara mudah. Di daerah, memang mereka memiliki ruang kelas yang sejuk, bukan sejuk karena pendingin ruangan, namun sejuk karena udara luar yang masuk melalui lubang-lubang kecil dinding kelas yang hanya terbuat dari anyaman bambu. Jangankan mengenal hotspot, bahkan banyak siswa-siswa yang tidak mengenal komputer, mereka tahu ada komputer, namun tidak pernah merasakan menggunakannya. Belum lagi mengenai sumber belajar. Banyak percetakan buku-buku pelajaran yang ada di kota, tentu saja buku-buku akan tersalurkan dengan cepat dan akan lebih sering diperbarui mengikuti perkembangan zaman. Namun, jika kita melihat di suatu daerah, banyak sekolah-sekolah yang hanya menggunakan buku-buku seadanya dan jarang mendapatkan buku-buku terbaru. Memang, pemerintah sudah baik mengeluarkan buku sekolah elektronik yang terjangkau oleh masyarakat, namun lagi-lagi penyebarannya masih belum merata.
Dalam hal ini pemerintah terutama yang berwenang dalam bidang pendidikan seharusnya bisa mengatasi hal ini dengan baik. Memang akses ke seluruh tempat di Indonesia tidak mudah, terutama di daerah kepulauan terpencil dan daerah pegunungan. Kementerian Pendidikan Nasional dan Departemen Pendidikan di setiap daerah seharusnya bekerja sama dalam masalah pemerataan ini. Kemendiknas menginstruksikan dan memberikan wewenang atau otonomi kepada Departemen Pendidikan di setiap daerah sampai dengan tingkat kabupaten dan kecamatan untuk memberikan perhatian lebih terhadap sekolah-sekolah yang ada di setiap daerahnya dan mendistribusikan bantuan sarana dan prasarana pendidikan.
Ada baiknya apabila pemerintah mengelola perpustakaan umum untuk masyarakat. Perpustakaan biasanya hanya terdapat di sekolah-sekolah. Tentu saja hal ini hanya bisa dinikmati oleh siswa-siswa sekolah saja. Adapun perpustakaan umum yang ada di daerah hanya terdapat sampai di kota atau kabupaten saja belum sampai tingkat daerah. Pemerintah bekerja sama dengan pemerintah daerah mengadakan “Program Perpustakaan untuk Desa”. Jadi,setiap desa memiliki perpustakaan umum yang bisa dinikmati oleh seluruh elemen masyarakat. Tentu saja pengelolaan harus dilakukan dengan baik dan buku-buku juga harus diperbarui secara berkala.
Kualitas pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang memadai, tetapi juga dari dari segi sumber daya guru. Susahnya akses menuju suatu daerah juga menghambat tersebarnya guru-guru untuk daerah-daerah. Banyak guru yang merasa lebih suka mengajar di kota. Selain akses yang ditempuh lebih mudah, kesejahteraan dan kemudahan hidup bisa dijumpai di perkotaan. Sehingga, kurangnya kesadaran akan pemerataan pendidikan di Indonesia bahkan berawal dari guru itu sendiri.
Pendidikan memang terlihat lebih maju di daerah perkotaan. Perguruan tinggi-perguruan tinggi yang memiliki kualitas bagus banyak terdapat di kota. Para putra daerah yang mendapatkan kesempatan belajar hingga perguruan tinggi berbondong-bondong datang ke kota untuk belajar. Mereka belajar dan mempunyai ilmu yang dapat digunakan untuk memajukan daerahnya. Kebanyakan dari mereka akan merasakan kemudahan hidup di kota, dan banyak pula di antara mereka yang memutuskan untuk tinggal di kota. Jika setiap putra daerah yang berpotensi untuk kemajuan pendidikan memutuskan tetap tinggal di kota, lalu siapa yang akan memajukan daerah? Padahal mereka sangat diharapkan untuk kembali, untuk memajukan daerahnya sendiri. Kota yang sudah maju dalam pendidikan sudah memiliki banyak sumber daya guru. Untuk apa banyak bersaing di kota jika pendidikan daerah masih sangat membutuhkan sumber daya guru?
Hal seperti ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Kemendiknas sebaiknya lebih jeli dalam mengatur persebaran guru di Indonesia. Setidaknya pemerintah benar-benar menerapkan peraturan yang mengikat kepada setiap guru yang sudah PNS untuk mau dan bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia, serta bersungguh-sungguh dalam pelaksanaannya. Ketika kesadaran akan pulang dan memajukan daerahnnya sendiri dari setiap putra daerah menurun, di sini perlu adanya campur tangan pemerintah. Pemerintah sebaiknya mengeluarkan sebuah kebijakan yang mewajibkan setiap putra daerah yang belajar di kota untuk pulang dan mengabdi kepada daerahnya. Memang,untuk tetap tinggal ataupun pulang merupakan sebuah pilihan dan hak masing-masing individu. Namun, masih haruskah untuk memilih jika pendidikan memang sangat membutuhkannya?
Pemenang I Sayembara Menulis
JUARA I SAYEMBARA MENULIS
Departemen Profesi dan Keilmuan BEM Jurusan Matematika 2012
Menghadapi Tantangan Global dengan Kebijakan Pendidikan
Titia Rakhmawati, Pendidikan Matematika SBI 2010
Indonesia, negeri sejuta rasa. Terdiri atas berbagai macam suku bangsa dan bahasa dengan budaya elok nan jelita. Bukan lautan, hanya kolam susu. Sumber daya alam melimpah ruah di negeri ini. Namun kini, hal tersebut hampir tinggal sebuah cerita. Terbatasnya sumber daya manusia yang mampu mengelola sumber daya alam yang ada menjadi salah satu penyebab semakin terpuruknya bangsa ini dalam menghadapi tantangan global yang menggila.
Tak bisa dipungkiri bahwasanya dunia pendidikan merupakan akar dari seluruh permasalahan yang ada di Indonesia. Namun, jika pendidikannya saja bermasalah, entah apalagi yang dapat dilakukan. Berbicara tentang pendidikan tak terlepas dari pembicaraan tentang pelaku pendidikan itu sendiri, pendidik salah satunya. Pendidik adalah sumber utama dalam proses pendidikan. Menjadi seorang pendidik berarti tidak hanya menjadi seseorang yang berkompeten di salah satu bidang studi tertentu tetapi juga menjadi figur yang dapat diteladani oleh para peserta didik. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang pendidik yang berkompeten dan profesional, diperlukan wadah pencetak berupa Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang juga berkompeten.
Harus kita akui, LPTK sebagai wadah pencetak tenaga kependidikan adalah kunci utama dari akar permasalahan pendidikan. Pendidik atau guru yang notabene bersentuhan langsung dengan para peserta didik haruslah seseorang yang benar-benar memahami dan menjiwai profesi yang digelutinya, seseorang yang dapat dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa. Maka dari itu, kebijakan pertama yang harus diterapkan adalah menjadikan LPTK sebagai lembaga yang benar-benar dapat menghasilkan pendidik yang profesional dan berkompeten. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperketat proses seleksi penerimaan calon guru di seluruh LPTK yang ada di Indonesia. Proses seleksi calon guru haruslah sesuai dengan kriteria guru profesional yang ingin diciptakan, dalam konteks ini adalah guru profesional yang sesuai dengan UU no. 14 tahun 2005. Finlandia, negara dengan predikat pendidikan tertinggi ketiga di dunia, menerapkan sistem bahwasanya pendidik adalah mereka yang merupakan lulusan terbaik (the best ten) dari universitas terbaik di sana. Bagaimana dengan Indonesia? Beranikah kita untuk menjalankan kebijakan seperti Finlandia?
Kebijakan kedua adalah alokasi dana pendidikan yang merata. Pendidikan untuk semua berarti setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) dan (2) tertulis jelas bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Pemerataan pendidikan di Indonesia masih menjadi salah satu permasalahan yang krusial. Kurangnya akses menuju daerah pedalaman, terbatasnya jumlah guru, dan terbatasnya dana pendidikan menjadi penyebab utama ketidakmerataan pendidikan hingga saat ini. Ditambah lagi keberadaan para koruptor tak berotak yang kerap kali mengorupsi dana pendidikan. Oleh karena itu, dengan mengalokasikan dana pendidikan secara merata dan mengawasi pendistribusiannya, diharapkan pendidikan untuk semua di Indonesia dapat terwujud, tidak ada lagi di satu sisi terdapat sekolah dengan sarana prasarana serta prestasi gemilang namun di sisi lain terdapat sekolah yang bangunannya disebut sebagai bangunan sekolah pun tak sanggup.
Kebijakan ketiga yakni pendidikan yang mengindonesiakan. Derasnya arus globalisasi memaksa kita untuk menyamakan standarisasi pendidikan dengan dunia internasional. Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) didirikan, bahasa Inggris selaku bahasa internasional diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas. Peserta didik dipaksa untuk memahami pembelajaran yang semakin sulit tanpa menggunakan bahasa ibu mereka. Kacau balaulah jadinya. Pemerintah dirasa belum siap dalam menjalankan kebijakan ini. Beberapa guru didatangkan dari luar negeri, tanpa tahu kualitas mereka di negerinya, yang terpenting adalah mereka dapat berbahasa Inggris dan sedikit memahami bahasa Indonesia, hal ini dilakukan demi mengatasi terbatasnya jumlah guru di Indonesia yang mahir mengajar dalam bahasa Inggris. Padahal, menurut singkat saya, yang terpenting dalam proses pembelajaran bukanlah bahasa apa yang digunakan, bahasa Internasional atau bukan, yang terpenting adalah peserta didik mampu memahami apa yang mereka pelajari dan dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dan untuk mewujudkan hal tersebut jelas dibutuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan mereka di negeri ini. Oleh karena itulah, yang sekarang terlihat di mata masyarakat justru adanya kastanisasi dalam dunia pendidikan. Perbedaan sekolah SBI dan RSBI dengan sekolah reguler hanyalah dari segi bahasa serta sarana dan prasarana saja, bukan kualitas yang katanya internasional (entah definisi apa yang digunakan untuk mengatakan bahwa sekolah tersebut telah menyandang gelar internasional). Bukan berarti bahasa Inggris itu tidak penting, sangatlah penting untuk mempelajari bahasa Inggris, apa lagi dalam menghadapi tantangan global saat ini, namun tidak dengan cara menginggriskan mata pelajaran yang ada di sekolah. Pancasila tetaplah landasan pendidikan Indonesia dengan UUD 1945 sebagai arahnya, demi terwujudnya pendidikan yang mengindonesiakan. Pendidikan Indonesia, semakin pintar semakin Indonesia.
Menghadapi tantangan global dengan kebijakan pendidikan adalah langkah tepat menuju kesejahteraan Indonesia. Pendidikanlah yang menciptakan sumber daya manusia bagi pengelolaan sumber daya alam Indonesia, manusia yang akan mewujudkan kesejahteraan bagi bangsanya, Indonesia. Bangkit pendidikanku, bangkit negeriku.
Jumat, 14 September 2012
Sabtu, 18 Agustus 2012
Tujuan, Visi Dan Misi SIGMA 2012
Tujuan :
- Mahasiswa baru dapat mengenal dan beradaptasi di lingkungan kampus, khususnya jurusan matematika.
- Terjalinnya persaudaraan dan silaturahmi antara mahasiswa baru dengan civitas akademika jurusan matematika.
- Terealisasinya nilai-nilai religi, akademik, dan sosial dalam segala aspek kehidupan mahasiswa baru.
- Terbentuknya mahasiswa baru yang cerdas, jujur, disiplin, kritis dan solutif serta kreatif atas dasar iman dan taqwa.
Visi:
MPA Jurusan Matematika 2012 sebagai pintu gerbang pengkaderan mahasiswa baru yang berlandaskan spiritual, moral, dan intelektual serta pengenalan dan adaptasi kehidupan kampus, budaya dan akademik.Misi:
- Mengenalkan dan melestarikan 8 budaya MIPA.
- Mengkader mahasiswa baru yang berdasarkan nilai-nilai agama, sesuai dengan nilai-nilai pancasila dan nilai intelektual dengan sinergis dan menyeluruh.
- Memberikan pelayanan advokasi bagi mahasiswa baru di segala bidang terutama akademik dan kemahasiswaan
- Memberikan info-info yang dibutuhkan oleh mahasiswa baru terkait akademik dan kemahasiswaan.
Senin, 13 Agustus 2012
STRUKTUR PANITIA MASA PENGENALAN AKADEMIK (MPA) JURUSAN MATEMATIKA 2012
Steering Committee:1. Ahmad Sandi
2. Cut Inez Noor Tanty Ayu
3. Dedy Irwanto
4. Delsi Armirani
Ketua : Rizki Dwi Permadi
Sekretaris 1 : Ratna Maryam
Sekretaris 2 : Rayi Gumira Ravibela Basmara Putra
Bendahara 1: Imelda Juwita Wahyuningsih
Bendahara 2 : Nia Puspitasari
Sie Acara :
1. Ryan Prasetya *
2. Danu Darmawan
3. Dwi Fitriani
4. Elsia Citra
5. Evan Setyadi Priyatna
6. Luthfi Ardiansyah
7. Muhammad Reyhan M
8. Maya Oktaviani
9. Rizka Zakiah
10. Tyan Retsa Putri
Pendaftaran :
1. Akmal Hakim *
2. Afifah Arifianti
3. Albert Parullian
4. Astri Septiani
5. Atiek Sulistyanti
6. Azalia Sabila
7. Chalimatus Sakdiyah
8. Debora Saurina
9. Desyandi Ayuriza
10. Diyan Nur
11. Dytta Sulistyaningrum
12. Hamas Fahmi
13. Muhammad Agung S N I
14. Muhammad Rudi Hartati
15. Muhammad Yusup
16. Nurul Ulfah
17. Oktaviana Sinaga
18. Rachmawati Malik Makmur
Medis :
1. Siti Nur R *
2. Anis Setyaningsih
3. Givatra Adam
4. Indah Dwi Astuti
5. Liza Ardiani
6. Nita Agustin
7. Qothrotun Nada
8. Rizky Mahanani
9. Sri Bagus Baskoro
1. Ryan Prasetya *
2. Danu Darmawan
3. Dwi Fitriani
4. Elsia Citra
5. Evan Setyadi Priyatna
6. Luthfi Ardiansyah
7. Muhammad Reyhan M
8. Maya Oktaviani
9. Rizka Zakiah
10. Tyan Retsa Putri
Pendaftaran :
1. Akmal Hakim *
2. Afifah Arifianti
3. Albert Parullian
4. Astri Septiani
5. Atiek Sulistyanti
6. Azalia Sabila
7. Chalimatus Sakdiyah
8. Debora Saurina
9. Desyandi Ayuriza
10. Diyan Nur
11. Dytta Sulistyaningrum
12. Hamas Fahmi
13. Muhammad Agung S N I
14. Muhammad Rudi Hartati
15. Muhammad Yusup
16. Nurul Ulfah
17. Oktaviana Sinaga
18. Rachmawati Malik Makmur
Medis :
1. Siti Nur R *
2. Anis Setyaningsih
3. Givatra Adam
4. Indah Dwi Astuti
5. Liza Ardiani
6. Nita Agustin
7. Qothrotun Nada
8. Rizky Mahanani
9. Sri Bagus Baskoro
Perkap :
1. Sultan *
2. Agustine Dwi K P
3. Ahmad Muroin
4. Dimas Setyo Utomo
5. Mahdi
6. Oktaviani Nuranggrae
7. Rifqi Marwah A
8. Riska Anggraeni
9. Siti Hardiyanti
10. Tedy Apriadi
11. Wahyu Widyastuti
Konsumsi :
1. Siska Setyaningsih *
2. Elika Herliana
3. Ema Nur Kholifah
4. Indah Permata Sari
5. Kartika Novita Putri
6. Noviani Nurhayati
7. Nurul Ikhsani
8. Utari Dyah
9. Syifa Aulia
10. Nida Shafianty
HPD :
1. Sandy Luke Nugroho *
2. Doharma Lestari
3. Evi Syahida
4. Galuh Ayu Rengganis
5. Hafsah Adha Diana
6. Muhammad Abdul Rohm
7. Miftahul Hasan
8. Mulyono
9. Nastiti Adzima
10. Putri Badzlina
11. Siti Nurfidanaufal
1. Sultan *
2. Agustine Dwi K P
3. Ahmad Muroin
4. Dimas Setyo Utomo
5. Mahdi
6. Oktaviani Nuranggrae
7. Rifqi Marwah A
8. Riska Anggraeni
9. Siti Hardiyanti
10. Tedy Apriadi
11. Wahyu Widyastuti
Konsumsi :
1. Siska Setyaningsih *
2. Elika Herliana
3. Ema Nur Kholifah
4. Indah Permata Sari
5. Kartika Novita Putri
6. Noviani Nurhayati
7. Nurul Ikhsani
8. Utari Dyah
9. Syifa Aulia
10. Nida Shafianty
HPD :
1. Sandy Luke Nugroho *
2. Doharma Lestari
3. Evi Syahida
4. Galuh Ayu Rengganis
5. Hafsah Adha Diana
6. Muhammad Abdul Rohm
7. Miftahul Hasan
8. Mulyono
9. Nastiti Adzima
10. Putri Badzlina
11. Siti Nurfidanaufal
Minggu, 22 Juli 2012
LOMBA KARYA TULIS ILMIAH GIZI NASIONAL
LOMBA KARYA TULIS ILMIAH GIZI NASIONAL 2012
Tema "Gizi sebagai akselerator pencapaian MDGs"
Kategori:
A. Karya Tulis Ilmiah Bahasa Indonesia untuk SMA/sederajat
B. Karya Tulis Ilmiah Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi
Ketentuan Umum:
- Peserta SMA/sederajat dan mahasiswa D3/S1
- Peserta dapat berupa perseorangan atau tim yang terdiri dari maksimal 3 orang
- Untuk peserta yang berupa tim dari kategori mahasiswa, anggota kelompok dapat berasal dari program studi yang berbeda dalam perguruan tinggi yang sama
- Setiap peserta maksimal maksimal mengirimkan satu karya tulis terbaiknya
- Karya tulis harus orisinil dan belum pernah dipublikasikan
- Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran yang dapat diunduh di nutritionexpo.co.cc serta mengirimkan biaya pendaftaran
Rp. 75.000,-/tim/individu untuk kategori SMA/sederajat
Rp. 100.000,-/tim/individu untuk kategori mahasiswa
Pembayaran
dapat dilakukan dengan cara transfer melalui rekening Bank BNI a.n
Pebriani Pakpahan dengan nomor rekening 02-030-440-28
DEADLINE
Pendaftaran: 14 Mei - 24 Agustus 2012
Pengumpulan: 3 September 2012
Pengumuman: 19 September 2012
Hadiah*:
- Juara I: Rp. 2.000.000,-+Trophy+Sertifikat
- Juara II: Rp. 1.500.000,-+Trophy+Sertifikat
- Juara III: Rp. 1.000.000,-+Trophy+Sertifikat
* hadiah untuk masing-masing kategori
Info Lengkap:
Web: nutritionexpo.co.cc
Twitter: @nutriexpo2012
Facebook: Nutri UI
CP: Melia Indriyani (085 888 9000 40)
Sumber : www.info-lomba.com
Rabu, 18 Juli 2012
Pengisian Form Biodata Mahasiswa Baru 2012
Kepada seluruh mahasiswa baru Jurusan Matematika 2012, masa interview akan tiba, mohon segera mengisi form biodata dengan klik "READ MORE" dan link berikut; https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?formkey=dFNQN2FTR0NxYjg2QUhlUF9KNDR6ZlE6MQ#gid=0
Masa pengisian biodata dimulai Rabu-Minggu, 18-22 Juli 2012 paling lambat pukul 17.00.
Terima kasih.
Read more >>
Masa pengisian biodata dimulai Rabu-Minggu, 18-22 Juli 2012 paling lambat pukul 17.00.
Terima kasih.
Jumat, 15 Juni 2012
Sabtu, 02 Juni 2012
Mencari Pahlawan Indonesia
Berbicara mengenai pahlawan tentu kita akan berbicara mengenai peradaban suatu negeri karena peradaban suatu negeri bergantung dari pahlawan-pahlawan yang ada pada masa itu, pahlawan terlahir dari kondisi atau keadaan yang serba tidak nyaman, kebanyakan dari mereka terlahir dari jaman yang penuh konflik, jaman yang didalamnya terdapat permasalahan-permasalahan yang menuntut mereka untuk bangkit melawan dan menegakkan apa yang seharusnya ditegakkan.
Banyak yang bertanya, Siapa sih Pahlawan itu? Pahlawan bukanlah orang suci yang diturunkan dari langit ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus tercatat dalam buku sejarah atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka adalah manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang disekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung, karya kepahlawanan adalah tabung jiwa dalam masa yang lama… dan dari mana mereka datang? Mereka muncul di saat-saat sulit. Mereka datang untuk memikul beban yang tidak dipikul manusia di zamannya. Mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat.
Para pahlawan menyadari betul bahwa *Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk memancing “naluri kepahlawan”- nya muncul. Bagi mereka yang tidak memiliki naluri ini, tantangan ini dianggap beban berat, mereka akan menghindari dan menerima dengan sukarela posisi kehidupan yang tidak terhormat.* * (Naluri Kepahlawanan, Hal 4, Anis matta). Itulah pahlawan, pahlawan bukan hanya orang-orang yang berperang membela negerinya dan meninggal lalu dimakamkan dimakam pahlawan, tetapi lebih dari itu. siapa saja bisa menjadi pahlawan, tidak terkecuali tukang becak, pilot, ataupun supir angkot. Mereka semua adalah pahlawan bagi kita, mereka adalah pahlawan atas fungsi dan peranannya di bidang masing-masing
Sebelum berbicara mengenai “mencari pahlawan Indonesia” alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui perangkat-perangkat apa saja yang diperlukan untuk menjadi seorang pahlawan.
apa saja akhirnya yang mendukung naluri kepahlawanan, karena naluri saja tidak cukup untuk menjadikan kita pahlawan. Anis Matta mengatakan, *Jika Naluri Kepahlawanan adalah akar pohon kepahlawanan, maka Keberanian adalah batang yang menegakkannya. Tidak ada Keberanian yang sempurna tanpa Kesabaran, karena kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya keberanian itu akan bertahan dalam diri seseorang. Dan Pengorbanan adalah bahan bakar dari ketiga hal di atas, Naluri Kepahlawanan, Keberanian dan Kesabaran…
Lalu, apa lagi stimulus yang diperlukan untuk menjadikan diri kita pahlawan, jawabannya adalah *kebaikan*. Mengapa? *Kebaikan adalah medan kompetisi bagi para pahlawan yang akan mengeksploitasi potensi potensi mereka. Dengarkan apa yang ada dalam pikiran para pahlawan, Setiap kali mereka menyelesaikan satu unit amal, dalam tempo yang ringkas dan cepat, dengan kualitas maksimum, dan dengan manfaat sosial sebesar-besarnya, barulah mereka dapat menikmati rentang waktu itu. Kebahagian mereka terletak pada selesainya unit-unit amal shalih yang mereka kerjakan dengan cara yang sempurna.
Langkah-langkah untuk menjadi pahlawan
Pertama adalah *optimisme*, optimisme adalah titik tengah realismen dan idealisme. Optimisme mengajarkan bahwa kita harus idealis dalam menjalani kehidupan ini, namun kita juga harus sadar bahwa kita hidup di dalam dunia yang real (nyata) yang terkadang jauh dari nilai-nilai ideal.
Kedua, *Mengambil Momentum*, Seseorang tidak menjadi pahlawan karena melakukan pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya, kepahlawanan memiliki momentumnya. Yang perlu kita lakukan adalah mempercepat saat-saat kematangan. Yaitu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin potensi dalam diri kita, mengolahnya dan kemudian mengkristalisasikannya. Dengan ini kita memperluas peluang sejarah atau mengantar kita ke pintu sejarah.
Ketiga, *Menjaga Kegembiraan Jiwa*, untuk terus mampu berjalan jiwa ini perlu dijaga agar tetap dalam kondisi gembira. Kegembiraan adalah sumber energi bagi jiwa.
Keempat, *Terus Menggali Keunikan Diri*, Sejarah hanya mencatat karya-karya yang berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya. *Sejarah tidak mencatat pengulangan-pengulangan. Kecuali untuk karya di bidang sama dan memiliki kualitas yang tidak berbeda. Menjadi unik adalah beban psikologis yang tidak semua orang mampu menanggungnya. Ancamannya adalah isolasi, keterasingan dan akhirnya adalah kesepian. Jika engkau bersedia menerima takdir kesepian sebagai pajak bagi keunikan, maka niscaya masyarakat juga akan membayar harga yang sama : kelak mereka akan merasa kehilangan*.
Kelima, *terus bergerak Menuju Kesempurnaan*, kesempurnaan adalah obsesi seorang pahlawan. Bergerak menuju sempurna adalah bergerak menuju batas maksimum, “Bagaimana mengetahui batas maksimum itu…?” *Batasan itu bersifat psikologis, yaitu semacam kondisi psikologis tertentu yang dirasakan seseorang dari suatu proses maksimalisasi penggunaan potensi diri, dimana seseorang memasuki keadaan yang oleh Al Qur’an disebut sebagai “menjelang putus asa”.
Keenam, *Siap Dengan Kegagalan*, pertanyaannya Bagaimana mereka mampu melampaui kegagalan-kegagalannya dan merengkuh takdirnya sebagai pahlawan…? Jawabnya adalah, *Mereka memiliki mimpi yang tidak pernah selesai, mereka memiliki semangat pembelajaran yang konstan, dan kepercayaan terhadap waktu, mereka menyadari bahwa segala sesuatu memiliki waktunya.
Ketujuh, *Kekuatan Imajinasi*
Di akhir buku ini Anis Matta mengatakan bahwa *jangan pernah menanti kedatangan mereka atau menggodanya untuk datang ke sini. Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di sini, di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau negeri ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah*. (Naluri Kepahlawanan, Hal 228, Anis matta)
Jika para pahlawan adalah anak jaman mereka, tentulah mereka membutuhkan potongan-potongan zaman yang merangsang munculnya kepahlawanan mereka. Ada banyak orang baik yang lahir dan mati tanpa pernah menjadi pahlawan; karena ia lahir pada jaman yang lesu, di mana hampir semua perempuan seakan mandul atau enggan meiahirkan pahlawan. Begitulah awalnya kesaksian kita; ada banyak potongan zaman yang kosong dari para pahlawan. Jaman kevakuman, jaman tanpa pahlawan. Pada potongan jaman seperti itu mungkin ada orang yang berusaha menjadi pahlawan; tetapi usaha itu seperti sebuah teriakan di tengah gurun; gemuruh sejenak, lain lenyap ditelan sunyi gurun.
Itulah yang terjadi pada saat sebuah peradaban sedang terjun bebas menuju kehancuran atau keruntuhannya. Ambillah contoh seting sejarah Islam kembali. Setelah berakhirnya kekuasaan Daulatul Muwahhidin dan Daulatul Murobithin di kawasan Afrika Utara pada penghujung milenium hijriah pertama, sulit sekali menemukan nama besar dalam sejarah Islam. Siapakah pahlawan Islam yang kita kenal dari generasi abad kesebelas dan keduabelas hijriyah? Saat itu bertepatan dengan abad kedelapanbelas dan kesembilanbelas hijriyah. Saat itulah, penjajahan Bangsa Eropa atas dunia Islam terjadi.
Para pahlawan Islam baru bermunculan kembali setelah abad ketigabelas hijriyah. Generasi pahlawan yang muncul pada abad ini adalah pahlawan pembaharu Islam. Ada nama Muhammad Bin Abdul Wahhab di Jazirah Arab. Ada nama Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna. dan Sayyid Quthub di Mesir. Ada Al-Maududi di Pakistan dan ada Al-Kandahlawi di India.
Begitulah mata rantai kepahlawanan pembaharu dimulai; kelesuan jaman mandul telah sampai pada titik nadirnya; kesabaran orang-orang terjajah telah habis, kelemahan orang-orang tertindas telah menjelma jadi kekebalan. Mereka terbangun dalam gelap, bergerak dalam ketidakjelasan. Akan tetapi, mereka telah bergerak. Ruh kehidupan umat telah kembali.
Sejarah kepahlawan manusia, dengan demikian, sebenarnya merupakan bagian dari sejarah peradabannya. Ini menjelaskan mengapa lebih banyak pahlawan yang lahir dari peradaban-peradaban besar dan relatif tua. Masyarakat primitif, sebaliknya, biasanya memiliki nasib yang sama dengan masyarakat dari sebuah peradaban yang baru saja mengakhiri kejayaannya; seperti perempuan mandul yang tidak mungkin melahirkan pahlawan.
Kenyataan inilah yang menjelaskan hubungan timbal balik antara pahlawan dan lingkungannya, antara tokoh dan peradabannya; sejarah peradaban adalah sejarah para pahiawannya, tetapi para pahlawan itu tetap saja merupakan anak-anak yang lahir dari rahim peradaban. Para pahlawan menjadi simbol kekuatan sebuah peradaban, tetapi peradaban memberi ruang yang luas bagi munculnya para pahlawan itu. Sebaliknya pun demikian. Hilangnya para pahlawan adalah isyarat matinya sebuah peradaban, tetapi runtuhnya sebuah peradaban adalah isyarat hilangnya ruang gerak bagi para pahlawan.
Jika kita menelaah lebih jauh sebenarnya kondisi bangsa kita saat ini sedang menuju pada kehancurannya, bagaimana tidak, fakta membuktikan bahwa para pemimpin negeri ini banyak sekali yang terindikasi dan terbukti melakukan tindakan korupsi, terjadinya praktek mafia hukum, makelar kasus yang dilakukan oleh petinggi-petinggi penegak hukum yang seharusnya mereka merupakan aset termahal yang dimliki bangsa ini untuk memberantas kriminalisasi hukum dinegeri ini, namun yang terjadi adalah sebaliknya, mereka malah menggunakan kekuasaannya untuk menyakiti hati rakyat Indonesia yang telah mempercayakan mereka sebagai penegak hukum dinegeranya, tidak hanya polisi, salah seorang jaksa agung terbaik yang dimiliki negeri ini pun beberapa waktu yang lalu terbukti telah mengkhianati tanah airnya dengan terbuai oleh harta tanpa memperdulikan jutaan nasib rakyat miskin yang ada dinegrinya, dan masih banyak lagi fakta-fakta buruk yang telah dan sedang terjadi dibidang pendidikan, ekonomi, dsb fakta ini menunjukkan bahwa tidak hanya rakyatnya saja yang dapat melakukan praktek-praktek kejahatan, pemimpinnya pun bisa melakukan itu, dah ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal yang sama dimasa yang akan datang. Fakta-dakta inilah yang mengindikasikan negri ini akan menuju pada kehancurannya jika tidak hadirnya para pahlawan yang mau concern terhadap permasalahan-permasalahan yang ada pada negeri ini.
Oleh karena itulah, Indonesia membutuhkan pahlawan-pahlawan yang tidak hanya pintar ataupun cerdas dalam menyelesaikan segala permasalahn negeri ini namun lebih dari itu Indonesia membutuhkan pahlawan-pahlawan yang memiliki akhlak yang mulia, kesabaran yang tinggi, keteguhan azam atau tekad dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa, karena banyak sekali para pemimpin kita saat ini yang dulunya memiliki idealisme seorang pahlawan namun ketika mereka telah mendapatkan amanah itu idealisme mereka yang dahulu mengebu-gebu seakan-akan hilang tertiup angin.
Sumber Referensi : Buku Mencari Pahlawan Indonesia Karya Anis Matta
Read more >>
Banyak yang bertanya, Siapa sih Pahlawan itu? Pahlawan bukanlah orang suci yang diturunkan dari langit ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus tercatat dalam buku sejarah atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka adalah manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang disekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung, karya kepahlawanan adalah tabung jiwa dalam masa yang lama… dan dari mana mereka datang? Mereka muncul di saat-saat sulit. Mereka datang untuk memikul beban yang tidak dipikul manusia di zamannya. Mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat.
Para pahlawan menyadari betul bahwa *Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk memancing “naluri kepahlawan”- nya muncul. Bagi mereka yang tidak memiliki naluri ini, tantangan ini dianggap beban berat, mereka akan menghindari dan menerima dengan sukarela posisi kehidupan yang tidak terhormat.* * (Naluri Kepahlawanan, Hal 4, Anis matta). Itulah pahlawan, pahlawan bukan hanya orang-orang yang berperang membela negerinya dan meninggal lalu dimakamkan dimakam pahlawan, tetapi lebih dari itu. siapa saja bisa menjadi pahlawan, tidak terkecuali tukang becak, pilot, ataupun supir angkot. Mereka semua adalah pahlawan bagi kita, mereka adalah pahlawan atas fungsi dan peranannya di bidang masing-masing
Sebelum berbicara mengenai “mencari pahlawan Indonesia” alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui perangkat-perangkat apa saja yang diperlukan untuk menjadi seorang pahlawan.
apa saja akhirnya yang mendukung naluri kepahlawanan, karena naluri saja tidak cukup untuk menjadikan kita pahlawan. Anis Matta mengatakan, *Jika Naluri Kepahlawanan adalah akar pohon kepahlawanan, maka Keberanian adalah batang yang menegakkannya. Tidak ada Keberanian yang sempurna tanpa Kesabaran, karena kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya keberanian itu akan bertahan dalam diri seseorang. Dan Pengorbanan adalah bahan bakar dari ketiga hal di atas, Naluri Kepahlawanan, Keberanian dan Kesabaran…
Lalu, apa lagi stimulus yang diperlukan untuk menjadikan diri kita pahlawan, jawabannya adalah *kebaikan*. Mengapa? *Kebaikan adalah medan kompetisi bagi para pahlawan yang akan mengeksploitasi potensi potensi mereka. Dengarkan apa yang ada dalam pikiran para pahlawan, Setiap kali mereka menyelesaikan satu unit amal, dalam tempo yang ringkas dan cepat, dengan kualitas maksimum, dan dengan manfaat sosial sebesar-besarnya, barulah mereka dapat menikmati rentang waktu itu. Kebahagian mereka terletak pada selesainya unit-unit amal shalih yang mereka kerjakan dengan cara yang sempurna.
Langkah-langkah untuk menjadi pahlawan
Pertama adalah *optimisme*, optimisme adalah titik tengah realismen dan idealisme. Optimisme mengajarkan bahwa kita harus idealis dalam menjalani kehidupan ini, namun kita juga harus sadar bahwa kita hidup di dalam dunia yang real (nyata) yang terkadang jauh dari nilai-nilai ideal.
Kedua, *Mengambil Momentum*, Seseorang tidak menjadi pahlawan karena melakukan pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya, kepahlawanan memiliki momentumnya. Yang perlu kita lakukan adalah mempercepat saat-saat kematangan. Yaitu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin potensi dalam diri kita, mengolahnya dan kemudian mengkristalisasikannya. Dengan ini kita memperluas peluang sejarah atau mengantar kita ke pintu sejarah.
Ketiga, *Menjaga Kegembiraan Jiwa*, untuk terus mampu berjalan jiwa ini perlu dijaga agar tetap dalam kondisi gembira. Kegembiraan adalah sumber energi bagi jiwa.
Keempat, *Terus Menggali Keunikan Diri*, Sejarah hanya mencatat karya-karya yang berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya. *Sejarah tidak mencatat pengulangan-pengulangan. Kecuali untuk karya di bidang sama dan memiliki kualitas yang tidak berbeda. Menjadi unik adalah beban psikologis yang tidak semua orang mampu menanggungnya. Ancamannya adalah isolasi, keterasingan dan akhirnya adalah kesepian. Jika engkau bersedia menerima takdir kesepian sebagai pajak bagi keunikan, maka niscaya masyarakat juga akan membayar harga yang sama : kelak mereka akan merasa kehilangan*.
Kelima, *terus bergerak Menuju Kesempurnaan*, kesempurnaan adalah obsesi seorang pahlawan. Bergerak menuju sempurna adalah bergerak menuju batas maksimum, “Bagaimana mengetahui batas maksimum itu…?” *Batasan itu bersifat psikologis, yaitu semacam kondisi psikologis tertentu yang dirasakan seseorang dari suatu proses maksimalisasi penggunaan potensi diri, dimana seseorang memasuki keadaan yang oleh Al Qur’an disebut sebagai “menjelang putus asa”.
Keenam, *Siap Dengan Kegagalan*, pertanyaannya Bagaimana mereka mampu melampaui kegagalan-kegagalannya dan merengkuh takdirnya sebagai pahlawan…? Jawabnya adalah, *Mereka memiliki mimpi yang tidak pernah selesai, mereka memiliki semangat pembelajaran yang konstan, dan kepercayaan terhadap waktu, mereka menyadari bahwa segala sesuatu memiliki waktunya.
Ketujuh, *Kekuatan Imajinasi*
Di akhir buku ini Anis Matta mengatakan bahwa *jangan pernah menanti kedatangan mereka atau menggodanya untuk datang ke sini. Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di sini, di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau negeri ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah*. (Naluri Kepahlawanan, Hal 228, Anis matta)
Jika para pahlawan adalah anak jaman mereka, tentulah mereka membutuhkan potongan-potongan zaman yang merangsang munculnya kepahlawanan mereka. Ada banyak orang baik yang lahir dan mati tanpa pernah menjadi pahlawan; karena ia lahir pada jaman yang lesu, di mana hampir semua perempuan seakan mandul atau enggan meiahirkan pahlawan. Begitulah awalnya kesaksian kita; ada banyak potongan zaman yang kosong dari para pahlawan. Jaman kevakuman, jaman tanpa pahlawan. Pada potongan jaman seperti itu mungkin ada orang yang berusaha menjadi pahlawan; tetapi usaha itu seperti sebuah teriakan di tengah gurun; gemuruh sejenak, lain lenyap ditelan sunyi gurun.
Itulah yang terjadi pada saat sebuah peradaban sedang terjun bebas menuju kehancuran atau keruntuhannya. Ambillah contoh seting sejarah Islam kembali. Setelah berakhirnya kekuasaan Daulatul Muwahhidin dan Daulatul Murobithin di kawasan Afrika Utara pada penghujung milenium hijriah pertama, sulit sekali menemukan nama besar dalam sejarah Islam. Siapakah pahlawan Islam yang kita kenal dari generasi abad kesebelas dan keduabelas hijriyah? Saat itu bertepatan dengan abad kedelapanbelas dan kesembilanbelas hijriyah. Saat itulah, penjajahan Bangsa Eropa atas dunia Islam terjadi.
Para pahlawan Islam baru bermunculan kembali setelah abad ketigabelas hijriyah. Generasi pahlawan yang muncul pada abad ini adalah pahlawan pembaharu Islam. Ada nama Muhammad Bin Abdul Wahhab di Jazirah Arab. Ada nama Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna. dan Sayyid Quthub di Mesir. Ada Al-Maududi di Pakistan dan ada Al-Kandahlawi di India.
Begitulah mata rantai kepahlawanan pembaharu dimulai; kelesuan jaman mandul telah sampai pada titik nadirnya; kesabaran orang-orang terjajah telah habis, kelemahan orang-orang tertindas telah menjelma jadi kekebalan. Mereka terbangun dalam gelap, bergerak dalam ketidakjelasan. Akan tetapi, mereka telah bergerak. Ruh kehidupan umat telah kembali.
Sejarah kepahlawan manusia, dengan demikian, sebenarnya merupakan bagian dari sejarah peradabannya. Ini menjelaskan mengapa lebih banyak pahlawan yang lahir dari peradaban-peradaban besar dan relatif tua. Masyarakat primitif, sebaliknya, biasanya memiliki nasib yang sama dengan masyarakat dari sebuah peradaban yang baru saja mengakhiri kejayaannya; seperti perempuan mandul yang tidak mungkin melahirkan pahlawan.
Kenyataan inilah yang menjelaskan hubungan timbal balik antara pahlawan dan lingkungannya, antara tokoh dan peradabannya; sejarah peradaban adalah sejarah para pahiawannya, tetapi para pahlawan itu tetap saja merupakan anak-anak yang lahir dari rahim peradaban. Para pahlawan menjadi simbol kekuatan sebuah peradaban, tetapi peradaban memberi ruang yang luas bagi munculnya para pahlawan itu. Sebaliknya pun demikian. Hilangnya para pahlawan adalah isyarat matinya sebuah peradaban, tetapi runtuhnya sebuah peradaban adalah isyarat hilangnya ruang gerak bagi para pahlawan.
Jika kita menelaah lebih jauh sebenarnya kondisi bangsa kita saat ini sedang menuju pada kehancurannya, bagaimana tidak, fakta membuktikan bahwa para pemimpin negeri ini banyak sekali yang terindikasi dan terbukti melakukan tindakan korupsi, terjadinya praktek mafia hukum, makelar kasus yang dilakukan oleh petinggi-petinggi penegak hukum yang seharusnya mereka merupakan aset termahal yang dimliki bangsa ini untuk memberantas kriminalisasi hukum dinegeri ini, namun yang terjadi adalah sebaliknya, mereka malah menggunakan kekuasaannya untuk menyakiti hati rakyat Indonesia yang telah mempercayakan mereka sebagai penegak hukum dinegeranya, tidak hanya polisi, salah seorang jaksa agung terbaik yang dimiliki negeri ini pun beberapa waktu yang lalu terbukti telah mengkhianati tanah airnya dengan terbuai oleh harta tanpa memperdulikan jutaan nasib rakyat miskin yang ada dinegrinya, dan masih banyak lagi fakta-fakta buruk yang telah dan sedang terjadi dibidang pendidikan, ekonomi, dsb fakta ini menunjukkan bahwa tidak hanya rakyatnya saja yang dapat melakukan praktek-praktek kejahatan, pemimpinnya pun bisa melakukan itu, dah ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal yang sama dimasa yang akan datang. Fakta-dakta inilah yang mengindikasikan negri ini akan menuju pada kehancurannya jika tidak hadirnya para pahlawan yang mau concern terhadap permasalahan-permasalahan yang ada pada negeri ini.
Oleh karena itulah, Indonesia membutuhkan pahlawan-pahlawan yang tidak hanya pintar ataupun cerdas dalam menyelesaikan segala permasalahn negeri ini namun lebih dari itu Indonesia membutuhkan pahlawan-pahlawan yang memiliki akhlak yang mulia, kesabaran yang tinggi, keteguhan azam atau tekad dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa, karena banyak sekali para pemimpin kita saat ini yang dulunya memiliki idealisme seorang pahlawan namun ketika mereka telah mendapatkan amanah itu idealisme mereka yang dahulu mengebu-gebu seakan-akan hilang tertiup angin.
Sumber Referensi : Buku Mencari Pahlawan Indonesia Karya Anis Matta
Langganan:
Postingan (Atom)
















